sebelum memikirkan dan mementingkan hal-hal tak perlu, coba lihat dirimu sendiri, ada dua manusia mulia yang menyatu di sana. pertanyakan, apa yang sudah kau lakukan untuk mereka? yakinkah tidak akan ada penyesalan setelah salah satu atau keduanya tiada?
Pagi itu.
Tepat pukul satu.
Kau ketuk pelan pintu kamarku.
Dari balik gorden bisa kulihat bayanganmu.
Terlihat ragu-ragu.
Aku membisu.
Ketukanmu makin memburu.
Apa yang kau cari dariku?
Aku ini tidak mau.
Apa engkau tidak tahu?
Jari-jarimu masih beradu dengan pintu.
Aku mulai terganggu.
Kusingkap gorden, kubuka jendelaku.
Senyum kaku.
“aku ingin bicara denganmu.”
“ini pukul satu, kau sungguh terlalu.”
“bolehkah ku tahu namamu?”
“pergilah dari depan pintuku.”
“aku ingin tau namamu.”
“pergilah dari depan pintuku.”
“siapa sebenarnya dirimu.”
Kutatap dia lelaki bermata sayu
“aku bukan orang yang kau ingin tahu.”
“haruskah aku pergi dari pintumu?”
“seharusnya engkau tau itu sedari dulu.”
…21 September 2010
aku mungkin tak memimpikanmu setiap malam, atau mengingatmu setiap saat, tapi benih rindu telah kutanam sejak kepergianmu. akan ada saatnya kau akan melihat dan memetik bunganya, yaitu saat aku bisa mencium tanganmu lagi.